Katalisnews.com – Watansoppeng – Langit Watansoppeng mulai jingga ketika ribuan pasang mata memusatkan pandangan ke tengah Lapangan Gasis, Senin sore, 17 Agustus 2026.
Di sanalah, di bawah tiang bendera, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) berjibaku menurunkan sang saka merah putih setelah sekitar delapan jam berkibar diujung tiang.
Bukan sekadar seremoni rutin. Bagi warga Kabupaten Soppeng, penurunan bendera sore itu adalah penutup dari rangkaian panjang perayaan kemerdekaan, sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah barang jadi yang selesai dirayakan lalu dilupakan.
Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, berdiri tegak sebagai inspektur upacara. Di depannya, Ipda Muhammad Arwin memandu barisan pasukan dengan aba-aba yang tegas, menjaga agar setiap gerakan tetap presisi hingga detik terakhir prosesi.
Di podium kehormatan, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) duduk berdampingan. Ada Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng, Kapolres Soppeng AKBP Hari Budiyanto, Dandim 1423 Soppeng Letkol Inf Eko Yulianto, Kajari Soppeng Sulta D. Sitohang, Ketua PN Watansoppeng Nur Kautsar Hasan.
Kehadiran mereka seolah menegaskan satu pesan sederhana, negara, dalam segala bentuknya, hadir utuh di lapangan sore itu.
Di kursi undangan, wajah-wajah familiar turut mewarnai barisan. Anggota DPRD Kabupaten Soppeng duduk berdampingan dengan para asisten Sekretariat Daerah dan kepala-kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Purnawirawan TNI/Polri, Legiun Veteran Republik Indonesia, PKK, Bhayangkari, dan Dharma Wanita turut ambil bagian, berbaur dengan perwakilan BUMN, BUMD, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda Soppeng.
Barisan yang Menjaga Ketertiban Prosesi
Di sisi lapangan, ratusan personel pasukan upacara berdiri dalam formasi rapi, seolah menjadi kerangka yang menopang jalannya seremoni.
Kodim 1423/Soppeng dan Polres Soppeng menurunkan barisan terdepan, disusul Satpol PP dan Damkar yang siaga di posisi masing-masing.
Petugas Dishub sibuk mengatur arus di sekitar lapangan, sementara perwakilan Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri Watansoppeng berbaris dengan seragam kebesaran instansi.
Sejumlah instansi vertikal dan unit kerja, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, pelajar SMA sederajat, hingga Kwartir Cabang Pramuka melengkapi formasi, membentuk mozaik yang mencerminkan wajah Soppeng dari berbagai lapisan.
Warga di Balik Pagar Betis
Namun barangkali cerita paling menarik justru datang dari luar garis lapangan. Di Anjungan Imangkawani, warga berdesakan mencari celah pandang terbaik. Barisan mereka terus memanjang hingga ujung Jalan Ksatria, merambat ke arah Taman Kalong, seakan seluruh kota tumpah demi satu tujuan, menyaksikan detik-detik bendera pusaka diturunkan.
Tidak ada yang memaksa mereka datang. Namun antusiasme itu tampak nyata pada wajah-wajah yang rela berdiri berlama-lama, sekadar untuk menjadi saksi mata dari sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Detik Penutup yang Syahdu
Ketika sang saka mulai bergerak turun perlahan, suasana lapangan berubah senyap. Semua mata tertuju ke satu titik, mengikuti irama kain merah putih yang meluncur pelan menyusuri tiang.
Di penghujung prosesi, alunan lagu Indonesia Jaya mengalun syahdu, menutup rangkaian upacara dengan nada yang menggetarkan. Bagi sebagian warga yang hadir, lagu itu bukan sekadar penutup acara seremonial, melainkan pengingat akan cita-cita besar yang masih harus terus diperjuangkan.
Senja pun akhirnya benar-benar turun di Watansoppeng. Lapangan Gasis kembali lengang, menyisakan jejak debu dan langkah kaki ribuan warga yang perlahan membubarkan diri, membawa pulang satu peringatan sederhana bahwa kemerdekaan, sekecil apa pun perayaannya, selalu layak untuk dikenang.
Redaksi



Komentar