Katalisnews.com – Makassar – Kabar duka menyelimuti komunitas gerakan sosial dan akademisi Makassar. Sudirman Nasir, S.Ked., MWH., Ph.D., dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang akrab disapa Sudi, meninggal dunia di RS Siloam Makassar pada Rabu malam, 26 Agustus 2026, pukul 23.20 Wita.
Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, menjadi salah satu yang pertama menyampaikan ungkapan belasungkawa. Ia mengaku menerima kabar tersebut melalui grup WhatsApp begitu selesai menunaikan salat Subuh.
“Saya sempat diam. Tidak langsung percaya,” Kata Selle. Ia lantas menghubungi kerabat Sudirman di Cabbenge, Soppeng, untuk memastikan kabar itu sekaligus menanyakan lokasi rumah duka dan rencana pemakaman.
Sahabat dari Jalan Panjang Gerakan Sosial
Bagi Selle, kepergian Sudirman bukan sekadar kehilangan seorang akademisi. Ia menyebut mendiang sebagai bagian dari perjalanan panjang gerakan masyarakat sipil di Makassar, jauh sebelum nama Sudirman dikenal luas sebagai peneliti kesehatan masyarakat.
Pada masa itu, kenang Selle, Sudirman dikenal sebagai aktivis, jurnalis, penulis, sekaligus sosok yang dekat dengan dunia seni dan sastra. Ketiga dunia itu, menurutnya, tidak pernah berjalan terpisah dalam diri mendiang.
“Ia bisa bicara tentang gerakan masyarakat sipil, kemudian menulis berita dengan sudut pandang yang tajam. Di waktu lain ia menulis puisi dan karya sastra yang enak dibaca,” ungkap Selle.
Wawasan yang luas itu, lanjutnya, tidak pernah membuat Sudirman tampil sebagai sosok yang menggurui. Ia justru dikenal rendah hati di tengah kedalaman pengetahuannya.
Jurnalis Berkelas dengan Kepekaan Sastrawi
Sebagai jurnalis, Selle menilai tulisan-tulisan Sudirman berkelas dan tajam dalam membedah persoalan. Kedekatannya dengan dunia sastra pula yang membuat setiap karya jurnalistiknya terasa hidup, bukan sekadar laporan kering.
Selain aktif menulis, Sudirman juga tercatat berkontribusi dalam berbagai kerja organisasi masyarakat sipil yang tumbuh di Makassar pada era tersebut.
Menurut Selle, banyak gagasan besar pada masa itu lahir dari pertemuan kecil, diskusi panjang, tulisan, dan ikatan persahabatan antarkawan seperjuangan.
“Sudi adalah bagian dari masa itu,” kata Selle.
Dari Aktivis Jalanan ke Peneliti Kesehatan Masyarakat
Jejak masa muda itu, menurut Selle, turut menjelaskan arah perjalanan akademik Sudirman di kemudian hari. Ketika menekuni riset kesehatan masyarakat dan berbagai persoalan sosial, sosok Sudirman yang dikenalnya sejak awal tetap tampak utuh.
Ia menyebut mendiang selalu membawa rasa ingin tahu seorang jurnalis, kepekaan seorang sastrawan, dan pengalaman seorang aktivis dalam caranya memandang manusia dan persoalan sosial di sekitarnya.
Kabar kepergian sahabatnya itu, kata Selle, baru benar-benar terasa nyata pada pagi harinya. “Dan pagi ini saya sadar, salah satu kawan seperjalanan itu sudah sampai lebih dahulu,” ucapnya sedih.
Rumah Duka
Jenazah Sudirman Nasir disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Jalan Barito Nomor 14, Perumahan Bukit Baruga, Antang, Makassar.
Selle turut mendoakan agar amal ibadah mendiang diterima di sisi Allah SWT.
“Semoga Amal Ibadahnya diterima Allah, diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan dijauhkan dari siksa,” harap Selle, menutup ceritanya dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un — Selamat jalan, Sudi. Semoga mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”
Redaksi



Komentar