Disaster
Beranda » News » Tangis Haru Korban Gempa Saat Relawan UMI Tiba di Ranaka, NTT

Tangis Haru Korban Gempa Saat Relawan UMI Tiba di Ranaka, NTT

Katalisnews.com – Manggarai – Fransiska Dinda Nova Parera tak kuasa menahan air mata ketika sebuah tenda darurat tiba di hadapannya, Rabu, 26 Agustus 2026. Bukan karena bantuan itu mewah, melainkan karena selama lebih dari sepekan ia tidur berdesakan bersama 21 orang lainnya, termasuk seorang bayi berusia tiga bulan dalam satu tenda pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur.

Perempuan yang akrab disapa Suster Dinda itu adalah tenaga kesehatan Puskesmas Timung. Ia datang ke lokasi pengungsian di Desa Ranaka, Kecamatan Waeri’i, bukan sebagai korban, melainkan sebagai penolong.

Namun kenyataannya, ia menyandang dua peran sekaligus: melayani pasien di siang hari, lalu berbaring di tenda sempit yang sama pada malam hari.

“Kami dalam satu tenda ada enam keluarga dan ada bayi. Dua puluh dua jiwa, dan ada satu bayi tiga bulan,” tuturnya, mengenang malam-malam panjang yang ia lalui bersama para pengungsi lainnya.

UMI Wisuda 2.866 Sarjana, Rektor Serukan Semangat “Sarjana Jalan Keluar”

Ketika Bantuan Tiba Tanpa Seremoni

Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA), Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, AR7 Team, dan KAHMI Manggarai, tiba membawa tenda tambahan, selimut, serta popok bayi. Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara, menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada Suster Dinda.

“Terima kasih, Pak,” ucap Suster Dinda pelan, sembari memeluk Prof. Zakir.

Tidak ada panggung. Tidak ada sambutan panjang. Yang ada hanya percakapan sederhana antara dua orang yang sama-sama memahami satu hal: di tengah bencana, kebutuhan manusia sering kali sesederhana selembar tenda dan sekotak popok.

UMI Kucurkan Beasiswa Rp1,6 Miliar untuk 121 Mahasiswa Tuntaskan Studi

Ribuan Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 memaksa hampir seluruh warga Desa Ranaka meninggalkan rumah. Kepala Puskesmas Timung, Maria Roslita Gaudensia, mencatat sekitar 500 kepala keluarga atau kurang lebih 2.000 jiwa masih mengungsi hingga kini.

“Banyak sekali, Pak. Satu desa di sini semua. Ada sekitar lima ratus KK,” ujarnya.

Gempa susulan yang terus terjadi membuat warga belum berani kembali ke rumah masing-masing, meski sebagian bangunan sebenarnya masih berdiri.

Penyintas yang Memilih Tetap Melayani

Relawan UMI Terus Bergerak, Giliran Kampung Nggori Dapat Bantuan Korban Gempa NTT

Di balik kesibukan pelayanan kesehatan, ada fakta yang jarang terungkap: sebagian tenaga kesehatan Puskesmas Timung juga menjadi korban gempa. Sebagian bahkan mengalami kondisi lebih berat dibanding warga yang mereka rawat.

“Di antara tenaga kesehatan ini ada juga yang menjadi korban. Bahkan ada yang kondisinya lebih berat. Tetapi sudah lebih dari sepekan mereka tetap bersama masyarakat dan terus melayani,” kata Prof. Zakir.

Mereka memeriksa pasien di siang hari, lalu kembali ke tenda pengungsian yang sama pada malam hari. Garis antara penolong dan yang ditolong nyaris hilang.

97 Pasien dalam Tiga Jam

Selain menyerahkan bantuan logistik, tim relawan membuka layanan kesehatan gratis yang dipimpin dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., bersama dr. Kirsan. Dalam waktu kurang dari tiga jam, sebanyak 97 warga mendapat pemeriksaan dan pengobatan.

Bagi warga yang berhari-hari hidup dalam kondisi darurat, hal sesederhana pemeriksaan tekanan darah atau konsultasi dokter menjelma menjadi kebutuhan yang sangat berarti.

Bukan Menggantikan, tapi Menguatkan

Prof. Zakir menegaskan, kehadiran timnya bukan untuk mengambil alih peran tenaga kesehatan setempat, melainkan untuk meringankan beban mereka.

“Kita datang memberikan support dan semangat. Yang juga harus kita kuatkan adalah tenaga-tenaga kesehatan yang luar biasa ini. Mereka sendiri terdampak, tetapi tetap memilih melayani masyarakat,” ujarnya.

Kunjungan ke Desa Ranaka merupakan bagian dari rangkaian misi kemanusiaan UMI di wilayah terdampak gempa NTT, sejalan dengan pelaksanaan Catur Dharma perguruan tinggi tersebut: pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan pendidikan karakter.

Air Mata yang Bicara Lebih dari Kata Terima Kasih

Setelah tenda diserahkan, Suster Dinda kembali ke rutinitasnya: memeriksa pasien, membagikan obat, mendampingi warga. Namun momen ketika ia menangis dan memeluk Prof. Zakir menyisakan kesan yang sulit dilupakan bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Air mata itu bukan sekadar ucapan terima kasih. Ia adalah jeda sejenak bagi seseorang yang selama sepekan lebih terus menguatkan orang lain, namun jarang punya kesempatan untuk merasa dikuatkan.

Sekitar 2.000 warga di Desa Ranaka masih membutuhkan tenda, obat-obatan, dan pendampingan. Kisah Suster Dinda menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka pengungsi, ada manusia, termasuk para penolong yang juga sedang berjuang untuk bertahan.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement