Katalisnews.com – Makassar – Universitas Muslim Indonesia (UMI) memberangkatkan tim medis ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (20/8), menyusul gempa bumi yang melanda wilayah tersebut. Tim ini diperkuat dokter spesialis bedah serta membawa obat-obatan, peralatan medis, dan bantuan logistik untuk mendukung penanganan korban terdampak.
Misi kemanusiaan ini digerakkan oleh Fakultas Kedokteran (FK) UMI bersama Association of Medical Doctors of Asia (AMDA) Internasional dan AMDA Indonesia. Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana perguruan tinggi dapat berperan aktif dalam merespons situasi darurat kebencanaan.
Tim yang Diterjunkan
Misi ini dipimpin oleh dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., dokter spesialis bedah yang ditugaskan menangani kasus-kasus yang membutuhkan penanganan cepat di lapangan. Ia didampingi oleh:
dr. Muhammad Irsan Muflih Mundzir, M.Kes.
Muhammad Zhafran Tharif Abdurrahman, S.Ked.
M. Altaf Fayyaz, S.Ked.
Muh. Asrul Idris, S.T. (Humas UMI)
Penunjukan dokter spesialis bedah sebagai pemimpin tim disesuaikan dengan kebutuhan riil di wilayah pascagempa, di mana penanganan cedera fisik akibat reruntuhan bangunan kerap menjadi prioritas medis yang mendesak.
Dukungan Logistik dan Alasan di Balik Misi
Dekan FK UMI, Dr. dr. H. Nasruddin A. Mappaware, menjelaskan bahwa pengiriman tim dirancang untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat terdampak, bukan sekadar simbol kepedulian institusi.
“Kami mengirimkan tim medis, termasuk dokter spesialis bedah, dengan dukungan penuh AMDA Internasional. FK UMI bersama AMDA Internasional juga berhasil menggalang bantuan yang akan disalurkan dalam bentuk kebutuhan mendesak, seperti logistik pangan, obat-obatan, serta peralatan medis untuk mendukung pelayanan di lapangan,” jelasnya, dikutip dari umi.ac.id
Selain tenaga medis, UMI turut menyiapkan dukungan kebutuhan dasar bagi warga terdampak, termasuk logistik pangan dan perlengkapan pelayanan kesehatan, agar bantuan yang diberikan lebih menyeluruh.
Kolaborasi sebagai Model Respons Bencana
Kerja sama dengan AMDA Internasional bukan sekadar hubungan kelembagaan di atas kertas. Dalam praktiknya, kemitraan ini menggabungkan tiga elemen: keahlian akademik dan tenaga profesional dari UMI, jejaring serta pengalaman kemanusiaan internasional dari AMDA, dan peran alumni UMI di daerah yang membantu membuka akses maupun memahami kebutuhan lokal.
Model kolaborasi semacam ini memberi gambaran bagaimana perguruan tinggi dapat memperluas dampak kerja kemanusiaannya tanpa harus bergerak sendirian, dengan memanfaatkan jejaring yang sudah terbangun sebelumnya.
Tim yang diberangkatkan juga perlu mempertimbangkan tantangan teknis di lapangan, termasuk kondisi geografis wilayah terdampak dan potensi gempa susulan, yang menuntut kesiapan ekstra selama masa penugasan.
Bagian dari Rekam Jejak Kemanusiaan UMI
Misi ke NTT ini melanjutkan sejumlah aksi serupa yang sebelumnya dijalankan FK UMI. Melalui Tim Reaksi Cepat TBM 110, FK UMI pernah memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat terdampak kebakaran di Makassar.
Di tingkat yang lebih luas, UMI juga pernah dipercaya menjadi tuan rumah Festival Nasional Kampus Berdampak untuk wilayah Sulawesi, forum yang mendorong perguruan tinggi agar lebih berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Langkah ke Depan
Pengiriman tim medis ke NTT menunjukkan bagaimana kapasitas kampus—mulai dari ilmu pengetahuan, tenaga profesional, jejaring internasional, hingga peran alumni—dapat digerakkan secara terkoordinasi saat masyarakat menghadapi krisis. Model kolaborasi lintas lembaga seperti ini berpotensi menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain dalam merancang respons cepat terhadap bencana di masa mendatang.
Redaksi



Komentar