Pertanian
Beranda » News » Bupati Soppeng Buka Review SID OPLAH Non Rawa 2026, Targetkan Peningkatan Produktivitas Pertanian

Bupati Soppeng Buka Review SID OPLAH Non Rawa 2026, Targetkan Peningkatan Produktivitas Pertanian

Review SID bersama LPPM Unhas membuka fakta mengejutkan: luas lahan yang bisa digarap jauh melampaui target awal, tapi tujuh indikasi kelompok tani ganda masih menunggu verifikasi.

Katalisnews.com – Soppeng – Angka itu lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Ketika tim LPPM Universitas Hasanuddin turun ke lapangan untuk mendelineasi lokasi program optimasi lahan non rawa Kabupaten Soppeng, mereka menemukan potensi 8.315,58 hektare, jauh di atas usulan awal 6.256,51 hektare. Selisihnya: lebih dari 2.000 hektare lahan produktif yang semula tidak masuk hitungan.

Temuan itu menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan Review Hasil Survei Investigasi dan Desain (SID) Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026, yang dibuka langsung oleh Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng di Ruang Pertemuan Gabungan Dinas, Watansoppeng, Jumat (22/5/2026).

 

Mayoritas Pakai Pompa dan Sumur Bor Listrik
Data SID mencatat cakupan yang signifikan: delapan kecamatan, 45 desa, dan 164 kelompok tani telah tersur­vei. Program optimasi yang direncanakan mencakup 6.256 hektare di tujuh kecamatan, ditambah pengembangan sekitar 1.500 hektare di Kecamatan Liliriaja.

2026, Bupati Soppeng Perkuat Kesiapsiagaan Pertanian

Yang menarik dari hasil review adalah dominasi solusi berbasis energi listrik. Sekitar 84 persen pekerjaan optimasi lahan non rawa tahun 2026 direkomendasikan berupa pembangunan pompa dan sumur bor berbasis energi listrik, selaras dengan program prioritas daerah yang dikenal sebagai “Listrik Masuk Sawah.”

Dari laporan SID, tercatat sekitar 533 titik sumur bor tersebar di delapan kecamatan. Jumlah itu dinilai menjadi potensi besar untuk mempercepat realisasi program listrik masuk sawah di Soppeng.

Dari sisi target produksi, 140 lokasi atau sekitar 85,4 persen dari total lokasi survei diarahkan untuk mencapai Indeks Pertanaman (IP) 200, artinya dua kali panen dalam setahun. Infrastruktur yang paling banyak direkomendasikan adalah pompa air dan jaringan irigasi air tanah (JIAT) pada 132 lokasi.

Ada Catatan yang Belum Beres
Namun di balik angka-angka yang menjanjikan, review SID juga menemukan sejumlah persoalan yang belum tuntas. Terdapat tujuh indikasi kelompok tani ganda yang masih memerlukan verifikasi lebih lanjut sebelum penetapan lokasi program. Selain itu, 21 lokasi dilaporkan belum memiliki sumber air, sementara 24 lokasi lainnya masih berada di IP 100, baru satu kali panen per tahun.

Rekomendasi prioritas yang dihasilkan dari review ini mencakup percepatan pembangunan pompa dan JIAT pada 132 lokasi, penanganan lokasi tanpa sumber air, verifikasi kelompok tani ganda, koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Gabungan P3A, serta monitoring pascakonstruksi secara berkala.

 

Pertanian sebagai Tulang Punggung
Dalam sambutannya, Bupati Suwardi menegaskan posisi sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomian Kabupaten Soppeng. Menurutnya, dukungan harus bersifat menyeluruh, dari pengolahan lahan, penyediaan air irigasi, hingga sarana pendukung pascapanen.

Review SID ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, dengan agenda utama pemaparan hasil kajian teknis oleh tim LPPM Unhas selaku penyusun desain program.

Kegiatan difasilitasi oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Soppeng. Hadir pula unsur pemerintah daerah, tim pengawas, dan penyuluh pertanian.

Program ini dikaitkan langsung dengan visi agropolitan daerah dan target swasembada pangan nasional. Ketepatan data dan desain, kata Suwardi, adalah prasyarat agar program berjalan efektif dan tepat sasaran — bukan sekadar menyerap anggaran.

Penulis: Rehan

Editor: Matawardi

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement