Katalisnews.com – Soppeng – Matahari siang Jumat, 4 September 2026, bersinar terik di halaman Masjid Nurul Qamar, Dusun Sekkang, Desa Mariorilau. Di antara deretan tikar yang digelar warga, Wakil Bupati Soppeng Ir. Selle KS Dalle duduk bersila, tak berjarak dengan jamaah yang mengelilinginya. Tak ada podium tinggi, tak ada sekat protokoler yang biasa membatasi pejabat dari rakyatnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu bukan sekadar seremoni tahunan. Bagi warga Sekkang, kehadiran Wabup menjadi penanda bahwa jarak antara pemimpin dan yang dipimpin bisa dipangkas, bukan lewat program besar, melainkan lewat kesediaan duduk, mendengar, dan tertawa bersama.

Sela di Tengah Kesibukan
Selle KS Dalle datang bukan tanpa alasan. Di sela agenda pemerintahan yang padat, ia memilih menyisihkan waktu untuk hadir di tengah masyarakat dusun yang jauh dari pusat kota Watansoppeng.
“Sesibuk apa pun, saya selalu berusaha mencuri waktu untuk hadir di tengah warga. Bukan hanya untuk memenuhi undangan, tapi karena di sinilah saya bisa mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat,” ujar Selle dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa momentum Maulid semestinya tak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ajang introspeksi bersama. Wabup pun tak segan berbincang santai dengan anak-anak yang berlarian di sekitar masjid, sebuah pemandangan yang jarang ditemui dalam kunjungan pejabat pada umumnya.

Ucapan Terima Kasih dari Panitia
Ketua panitia peringatan Maulid yang juga menjabat Kepala Dusun Sekkang, Sakaria, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Wabup Soppeng itu. Baginya, kunjungan tersebut adalah bentuk perhatian nyata terhadap warga di pelosok desa.
“Kami warga Dusun Sekkang merasa sangat dihargai. Kehadiran Pak Wabup di tengah-tengah kami menunjukkan bahwa pemerintah tidak melupakan dusun sekecil ini,” kata Sakaria.
Sakaria menuturkan, persiapan acara sempat diwarnai kekhawatiran soal kehadiran tamu penting di tengah keterbatasan fasilitas dusun. Namun kekhawatiran itu sirna begitu Wabup tiba dan langsung membaur tanpa menuntut perlakuan khusus.

Suara dari Tokoh Perempuan Desa
Sementara itu, Hj. Nemmi, tokoh masyarakat sekaligus tokoh perempuan Desa Mariorilau, mengaku terharu menyaksikan keakraban yang terjalin antara Wabup dan warga sepanjang acara.
“Baru kali ini saya melihat pejabat duduk bersama-sama kami tanpa jarak. Ini pelajaran berharga bagi generasi muda kami, bahwa memimpin itu harus dekat dengan hati rakyat,” ungkap Hj. Nemmi.
Ia berharap semangat kebersamaan semacam ini terus dijaga, tidak hanya pada momen Maulid, tetapi juga dalam keseharian pembangunan desa.

Pesan Hikmah: Meneladani Akhlak Rasul
Puncak acara diisi tausiah oleh Ustadz Zidrah, S.Ag., M.Pd.I., yang mengajak jamaah merenungkan makna Maulid lebih dari sekadar perayaan. Menurutnya, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW berarti menghidupkan kembali akhlak mulia dalam kehidupan sosial, termasuk dalam relasi antara pemimpin dan rakyat.
Ia menegaskan bahwa keteladanan Rasulullah tercermin dari kedekatannya dengan umat, tidak membangun jarak, dan senantiasa hadir mendengarkan persoalan masyarakat kecil sekalipun. Pesan itu, katanya, relevan dihidupkan kembali di tengah kecenderungan birokrasi yang kerap berjarak dari rakyat.

Sinergi Semua Unsur
Acara berlangsung khidmat berkat dukungan penuh dari berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir mendampingi Wabup, di antaranya:
Kepala Desa Mariorilau, Andi Mappatunru, beserta seluruh aparat desa
Anggota DPRD Kabupaten Soppeng, Ardi Doma
Camat Marioriwawo
Kapolsek Marioriwawo
Ketua TP PKK Kecamatan dan Ketua TP PKK Desa Mariorilau
Ketua BPD Desa Mariorilau
Babinsa dan Bhabinkamtibmas
Para majelis taklim se-Desa Mariorilau
Selain itu, sejumlah kepala sekolah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Dusun Sekkang turut ambil bagian, memperkuat kesan bahwa peringatan Maulid kali ini benar-benar menjadi ruang temu lintas kalangan.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Di balik rangkaian doa dan tausiah, peristiwa sore itu menyisakan pesan yang lebih dalam: kepemimpinan yang membumi tak selalu diukur dari kebijakan besar, tetapi juga dari keberanian meninggalkan sekat—duduk sejajar, mendengar tanpa jarak, dan hadir tanpa formalitas berlebih. Bagi warga Sekkang, itulah wajah kepemimpinan yang mereka rindukan: dekat, hangat, dan nyata.
Redaksi



Komentar