Katalisnews.com – Watansoppeng – Langit Soppeng belum juga mengalah. Kemarau yang membentang berbulan-bulan membuat tanah retak dan sawah menanti. Jumat pagi, 11 September 2026, ribuan warga memilih jalan yang telah ditempuh umat Islam sejak zaman Nabi, mereka berkumpul, bersujud, dan memohon hujan.
Shalat Istisqa itu digelar di Masjid Agung Darussalam, Jalan Pengayoman, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, mulai pukul 07.50 hingga 08.35 Wita. Penyelenggaranya Pemerintah Kabupaten Soppeng bekerjasama DPD Wahdah Islamiyah Soppeng, sebuah kolaborasi yang menyatukan mimbar dan meja pemerintahan dalam satu keresahan yang sama.

Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Irfan, S.Pd., guru Al-Qur’an di SMP IT Ar-Raihan Wahdah Islamiyah Soppeng. Sementara khatib dipercayakan kepada Ustadz Abdil Haq, Lc., alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, nama yang akrab di telinga jamaah sebagai penceramah dengan bekal keilmuan Timur Tengah.
Hampir seribu warga memadati halaman masjid. Barisan itu bukan cuma jamaah biasa. Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, hadir bersama jajaran pemerintahan lengkap: para staf ahli Sekretariat Daerah, kepala-kepala SKPD, kepala bagian lingkup Setda, hingga Camat Lalabata, Risqun, S.STP., M.Si. Para kepala desa dan lurah se-Soppeng turut ambil bagian, begitu pula Ketua DPD Wahdah Islamiyah Soppeng, Taufik Hidayat, SE. Guru dan tenaga pendidik Sekolah Islam Ar-Raihan pun berbaris di antara warga biasa yang datang dengan sajadah masing-masing.
Ir. Selle KS Dalle, dalam kesempatan itu, menyampaikan bahwa shalat istisqa adalah bentuk ikhtiar spiritual yang mesti berjalan beriringan dengan upaya pemerintah menghadapi dampak kemarau panjang. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Soppeng untuk terus bersabar dan tidak berhenti berdoa, sembari menegaskan pemerintah daerah akan terus memantau kondisi kekeringan di lapangan.

Kekeringan yang melanda Soppeng bukan sekadar catatan cuaca. Ia menyentuh sawah yang mengering, sumur yang menyusut, dan harapan petani yang menggantung pada musim yang tak kunjung berubah. Dalam situasi itu, Wahdah Islamiyah menggerakkan inisiatif yang sederhana namun bermakna: mengajak umat kembali ke langit, memohon apa yang tak bisa direkayasa manusia.
Hingga rangkaian shalat usai pukul 08.35 Wita, suasana berlangsung aman, tertib, dan lancar. Ribuan pasang tangan yang tadi menengadah perlahan turun, meninggalkan debu jalanan Watansoppeng yang masih menunggu tetes pertama.
Redaksi



Komentar