Makassar, Katalisnews.com — Bayangkan sebuah pabrik rokok rakyat yang setiap keputusannya — mulai dari memilih mesin, meracik cita rasa, hingga merancang ekspansi pasar — didasarkan pada data ilmiah yang tervalidasi. Itulah masa depan yang sedang dibangun oleh PT. Lamataesso Mattappaa Perseroda bersama Universitas Hasanuddin.
Selasa, 12 Mei 2026, keduanya menggelar pertemuan konsolidasi program di Cafe Mauki, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar — menandai langkah serius menuju pelaksanaan program hilirisasi riset bertajuk SINERGI (Skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi).

Riset Masuk Industri, Bukan Sekadar di Atas Kertas
Program SINERGI merupakan inisiatif Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Tujuannya satu: memastikan hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti di jurnal ilmiah, melainkan benar-benar diterapkan dan memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat.
PT. Lamataesso adalah salah satu mitra yang berhasil lolos seleksi Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Bersama tim peneliti Unhas, mereka mengangkat riset bertajuk Sistem Integrasi Hilirisasi Strategis Berbasis Analisis Tekno-Ekonomi dan Pemetaan Preferensi Konsumen Terintegrasi — atau disingkat S-TIE Framework.
S-TIE: “GPS” untuk Industri Tembakau Soppeng
Romi Setiawan, ketua tim riset dari Unhas, menjelaskan bahwa S-TIE dirancang bukan sekadar sebagai alat analisis biasa. Ia menyebutnya sebagai “sistem navigasi” bagi Lamataesso dalam mengelola Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) Soppeng.
“S-TIE mengonversi potensi tembakau lokal menjadi produk bernilai tinggi dengan pendekatan Data-Driven Decision Making — memastikan setiap langkah, mulai dari penilaian kelayakan pembelian mesin, peracikan rasa, hingga ekspansi global, didasarkan pada validasi teknis dan ekonomi yang akurat,” terang Romi.
Teknologi ini mengintegrasikan tiga hal sekaligus dalam satu alur kerja ilmiah: riset pasar, standarisasi formulasi produk, dan manajemen rantai pasok. Dengan kata lain, tidak ada lagi keputusan yang dibuat coba-coba.

Petani Bukan Sekadar Pemasok
Yang menarik, visi S-TIE tidak berhenti di pintu pabrik. Direktur Utama PT. Lamataesso, Musdar Asman, menekankan bahwa teknologi ini dirancang untuk mengubah posisi petani tembakau lokal — dari sekadar pemasok bahan baku menjadi mitra strategis yang turut menikmati nilai tambah.
“Dengan memastikan standar pasca-panen yang terintegrasi, S-TIE meningkatkan nilai jual tembakau petani sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan bagi pabrik. Ini menciptakan dampak sosial-ekonomi positif di Kabupaten Soppeng,” ujar Musdar.
Bagi Musdar, itulah makna sesungguhnya dari sebuah BUMD — bukan hanya mengejar keuntungan korporasi, tetapi hadir sebagai pengungkit kesejahteraan warga di daerahnya sendiri.
Dari sebuah pertemuan di kafe di tengah kota Makassar, sebuah ekosistem industri tembakau yang lebih cerdas, lebih adil, dan lebih berkelanjutan untuk Soppeng mulai dirancang — satu langkah ilmiah pada satu waktu. (Redaksi)


Komentar