Budaya
Beranda » News » Penasaran Ada Apa? Wabup Soppeng dan Dekan FIB Unhas ke Mattabulu Temui Petani Gula Aren

Penasaran Ada Apa? Wabup Soppeng dan Dekan FIB Unhas ke Mattabulu Temui Petani Gula Aren

Katalisnews.com – Soppeng – Udara Mattabulu menusuk tulang malam itu. Jalan berliku, menanjak, lalu bergelombang, mengantar iring-iringan kendaraan menembus kabut Dusun Cirowali, Desa Mattabulu, Kabupaten Soppeng.

Jarum jam menunjuk pukul 22.00 Wita ketika rombongan akhirnya berhenti. Bukan wisata yang mereka kejar malam itu, melainkan sepenggal ingatan yang ingin dijemput kembali.

Dua puluh empat tahun silam, di dusun yang sama, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., berjalan kaki menemani petani gula aren Cirowali dan Teppoe. Kala itu ia belum menyandang gelar Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Ia hanya seorang pendamping program, bergerak bersama aktivis NGO M. Nawir, membawa semangat Revolving Fund Keberdayaan Masyarakat yang digagas Menteri Lingkungan Hidup saat itu, Emil Salim.

Wabup Soppeng, Ir. Selle KS Dalle bersama Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, M. Nawir, Kades Mattabulu, dan petani gula aren Mattabulu di Lembah Cinta

Jumat, 17 Juli 2026, keduanya kembali menapaki jalan yang sama. Kali ini mereka tidak sendiri. Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, kawan lama dari masa aktivis, memilih ikut serta. Ia bisa saja mengutus staf untuk urusan seremonial semacam ini. Namun ia memilih duduk bersama sepuluh petani gula aren, mendengar langsung keluh mereka, alih-alih membaca laporan di atas meja kerjanya di kantor.

“Dulu jalanan lebih parah. Hampir sepanjang ruas jalan masih berupa jalan tanah dan berbatu. Saat musim hujan, kendaraan sulit bergerak,” kenang Prof. Akhmar, mengingat mobil kijang kotak milik seorang pedagang di Teppoe yang dulu kerap ia tumpangi. Ia mengaku beberapa kali terhempas dari bangku setiap kali roda menghantam batu besar di jalan.

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Warga Soppeng Rayakan lewat Nobar di Taman Gapis

Malam kian larut, tapi obrolan justru mengalir deras, sederas gemuruh air terjun Liupangie yang tak jauh dari dusun itu. Gaya khas aktivis NGO era 90-an muncul kembali: antusias, tajam, dan analitis. Mereka mengurai satu per satu masalah, relasi antara Kehutanan, petani gula, dan pemerintah desa. Semua bermuara pada satu pertanyaan sederhana namun berat: bagaimana caranya gula aren Mattabulu bertahan, bukan sekadar berkembang lalu padam.

Andi Arisal Amin, Pelaksana Tugas Kepala Desa Mattabulu, hadir malam itu bersama Sekretaris Desa Abdul Kadir dan Babinsa Kopka Budi Setiawan. Sejumlah aparat desa dan sepuluh petani gula aren duduk melingkar, sesekali tawa pecah di antara diskusi yang serius.

Program Perhutanan Sosial dari Kementerian Kehutanan menjadi tulang punggung penghidupan warga lewat skema Hutan Kemasyarakatan. Dari situ lahir Kelompok Tani Hutan Benati, yang salah satu unitnya, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Hasil Hutan Bukan Kayu yakni Gula Aren, digerakkan oleh Henrik, Saharuddin, Baharuddin, Launru, Laning, dan Ardi.

Angkanya cukup untuk menggambarkan skala kehidupan yang bergantung pada pohon aren di Mattabulu. Tiga kelompok perhutanan sosial menaungi total 120 kepala keluarga, terbagi dalam HKM Benati, LPHD Mattabulu, dan HKM Tone Lestari, mengelola kawasan hutan seluas sekitar 2.000 hektare. Setiap keluarga rata-rata memproduksi 100-200 biji gula aren, dijual ke pedagang seharga Rp2.500 per biji.

Di Tengah Gempuran Budaya Global, Soppeng Jadi Titik Balik Pelestarian Tradisi Bugis

Namun di balik angka itu, ada dua ancaman yang mengintai pelan-pelan. Pertama, regenerasi. Hampir seluruh petani gula aren Mattabulu kini menua tanpa penerus. Jika tak ada generasi yang mau meneruskan, gula aren Mattabulu yang selama ini dikenal tinggal jadi cerita yang diceritakan ulang, bukan lagi produk yang dihasilkan.

Kedua, biaya produksi yang terus merangkak naik. Petani harus membeli limbah kayu dari pabrik pengolahan kayu seharga Rp.400 ribu per mobil untuk bahan bakar membuat gula.

Proses memasak berlangsung sekitar delapan jam, dari pagi hingga malam, hanya untuk menghasilkan sekitar 200 biji gula merah yang dijual dengan harga Rp22.000 per kilogram.

Kunjungan Wakil Bupati Selle KS Dalle malam itu tidak menghasilkan proyek besar yang bisa langsung diumumkan esok hari. Yang ia bawa pulang justru lebih sederhana: pengetahuan tangan pertama tentang berapa jauh jarak antara kebijakan dan dapur tempat gula aren dimasak. Duduk semalaman bersama dekan, aktivis, dan petani bukan sekadar nostalgia.

Bagi Wabup Soppeng, itu adalah cara pemimpin daerah memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dibawa dari kampus benar-benar sampai ke tungku warga, bukan berhenti di ruang seminar.

Wabup Soppeng Selle KS Dalle Bahas Kedudukan Kepala Daerah di Podcast Akbar Faizal Uncensored

Malam itu, di ketinggian Cirowali, jarak antara pemimpin dan rakyatnya terasa nyaris tak ada.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement