Katalisnews.com – Makassar – Musim hujan Soppeng periode 2026/2027 diprakirakan datang lebih lambat dari biasanya. Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, unit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan hasil analisis itu dan mengaitkannya dengan El Niño sangat kuat di Samudra Pasifik. BMKG meminta petani dan pemerintah daerah segera menyesuaikan kalender tanam.
Analisis BMKG menunjukkan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Sulsel mundur dari rata-rata. Mundurnya berkisar dua hingga tiga dasarian atau lebih, tergantung zona.
Hal ini mengemuka dalam rapat koordinasi pembahasan Rilis Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (29/9/2026).
El Niño Menekan Curah Hujan
El Niño Southern Oscillation (ENSO) mencatat anomali suhu permukaan laut hingga +2,76. Angka itu menempatkan El Niño dalam kategori sangat kuat. BMKG memprediksi kondisi ini bertahan hingga awal 2027.
Dampaknya langsung terasa di darat. Pemanasan laut di Pasifik menggeser pembentukan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia, sehingga hujan turun lebih lambat dan lebih jarang.
Empat Zona, Empat Jadwal
BMKG membagi Soppeng ke dalam empat Zona Musim (ZOM). Jadwal hujan tiap zona berbeda:
Wilayah Barat (Marioriawa, Donri-Donri, Lalabata bagian barat): hujan mulai akhir November hingga pertengahan Desember 2026, mundur tiga dasarian (30 hari) atau lebih. Puncaknya Januari 2027 dengan sifat hujan normal.
Wilayah Tengah hingga Timur (Lalabata, Donri-Donri, Marioriawa, Ganra, Liliriaja, Lilirilau bagian barat): hujan mulai Desember 2026, mundur dua dasarian. Puncaknya Februari 2027 dengan sifat hujan atas normal, artinya lebih basah dari biasanya.
Wilayah Selatan dan Timur (Lilirilau bagian timur, Citta, Marioriwawo, Lalabata bagian selatan): hujan mulai Desember 2026, mundur tiga dasarian atau lebih. Puncaknya Februari 2027.
Sebagian kecil timur laut Lilirilau: hujan baru datang pertengahan Maret hingga awal April 2027, sama dengan normalnya. Puncaknya Mei 2027.
Sebagian besar Soppeng, dengan demikian, harus menunggu hujan lebih lama. Hanya kantong kecil di timur laut Lilirilau yang tidak bergeser.
Ancaman bagi Kalender Tanam
Petani yang mengikuti pola lama menghadapi risiko paling nyata. Benih yang ditebar sebelum hujan stabil rawan gagal tumbuh, dan biaya tanam ulang akan menekan pendapatan mereka.
Sebaliknya, zona tengah hingga timur menyimpan persoalan lain. BMKG memprakirakan puncak hujan di sana tergolong atas normal pada Februari 2027. Setelah kemarau yang memanjang, curah hujan tinggi berpotensi memicu genangan dan limpasan air di lahan yang belum siap.
Karena itu, pergeseran jadwal tanam tidak cukup. Petani juga perlu menyiapkan saluran drainase dan memilih varietas yang sesuai dengan kondisi di zonanya.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, dan masyarakat mengantisipasi pergeseran kalender tanam. Lembaga itu juga meminta semua pihak mengelola cadangan air dengan bijak selama periode kering yang lebih panjang.
Selain itu, BMKG mengajak warga tetap tenang. Masyarakat dapat memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kontak dan saluran resmi BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan.
Menunggu Langkah Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle yang hadir pada Rakor Pembahasan Rilis PMH 2026/2027 mengapresiasi dan berterima kasih atas rilis BMKG. “Kami sangat berterima atas rilis ini. Ini merupakan alarm pengingat bagi kita semua untuk segera bersiap-siap dan mengambil langkah strategis menghadapi situasi dampak el nino yang panjang”. Ujar Selle
Kesiapan pemerintah daerah, khususnya dinas terkait dapat menerjemahkan data zona musim menjadi panduan tanam per kecamatan, menjadwalkan pompa dan distribusi air, serta memperkuat penyuluhan lapangan. Lanjut Selle.
Petani membutuhkan informasi yang mudah dipahami dan tiba tepat waktu, bukan sekadar angka anomali. Semakin cepat panduan itu sampai ke desa, semakin kecil kerugian yang mungkin terjadi.
Redaksi



Komentar